IGS 2012: Talk Show Pengembangan Game Bersama Shuji Utsumi

Bisa dibilang, hari kedua Indonesia Game Show (IGS) 2012 kemarin lebih ramai dan semarak dibandingkan hari pertamanya Jum’at lalu. Selain jumlah pengunjung yang lebih banyak karena sudah memasuki weekend, di hari kedua ini ada lebih banyak acara yang diselenggarakan, baik di panggung utama maupun yang ada di booth-booth penyelenggara. Salah satu acara utama yang ditampilkan adalah talk show bersama Shuji Utsumi, Co-founder dan CEO dari Q Entertainment yang mengambil tema World and Local Game Developer.

Di awal talk show, Mr. Utsumi menjelaskan latar belakang dan sejarah beliau di dunia game. Awalnya, beliau adalah salah satu anggota dari tim founder Sony Computer Entertainment America (SCEA), dan seringkali mendapatkan tugas untuk menyiapkan bisnis plan unyuk SCEA. Beberapa karyanya saat berkecimpung di SCEA adalah lahirnya judul-judul legendaris seperti Crash Bandicoot dan Battle Arena Toshinden. Beliau juga mengungkapkan kebanggaannya terhadap Crash Bandicoot, yang berhasil mengangkat nama Naughty Dog menjadi menjadi salah satu developer papan atas sekarang, dan memiliki judul-judul besar semacam Uncharted.

Setelah dari Sony, Mr. Utsumi pun pindah ke SEGA dan menjadi Executive Director disana. Dari tangan dinginnya, SEGA berhasil mencetak karya-karya besar seperti Sonic Adventure dan Space Channel 5. Dari SEGA, Mr. Utsumi berpindah lagi ke Disney Interactive Asia Pasific, dan akhirnya lahirlah judul seperti Kingdom Hearts yang saat ini menjadi salah satu IP besar di dunia game. Kesukesan di beberapa perusahaan besar itulah yang akhirnya ditularkan Mr. Utsumi ke dalam Q Entertainment, dimana game pertamanya, Lumines menjadi salah satu launch title untuk PSP dan bahkan menjadi salah satu judul PSP tersukses saat awal perilisannya.

Selesai menjelaskan panjang lebar mengenai latar belakang dan sejarahnya dalam dunia game, Mr. Utsumi memulai talk show-nya dengan memberikan sebuah fakta yang menarik. Beliau menuturkan, pada era 1990-an lalu, game developer hanya terfokus untuk mengembangkan game saja, tidak melirik ke pasar lainnya. Namun, seiring dengan perjalanan waktu dan perubahan tren, game developer pun mulai melirik area lain yang bisa dieksplorasi dan dieksploitasi. Sebagai contoh adalah Q Entertainment sendiri, dimana dari start hanya mengembangkan game,  mereka saat ini sudah merambah ke aspek lain seperti aplikasi Smartphone dan sosial media untuk mobile.

Keuntungannya dengan mencoba ke aspek lain, dituturkannya adalah tentu untuk mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar. Jika hanya dengan game saja, sebuah game developer hanya bisa mendapatkan pangsa pasar beberapa ratus ribu saja, maka dengan merambah ke platform dan aspek lain, mereka berkesempatan untuk mendapatkan jutaan pangsa pasar yang tersisa lainnya. Beliau mendeskripsikan kriteria game developer sukses menjadi dua, yaitu “Huge Success” dan “Good Success”. Kategori game developer yang bisa mendapatkan “Huge Success” adalah mereka yang bisa membentuk pasar baru, yang belum pernah dicoba sebelumnya. Sedangkan untuk kategori “Good Success”, adalah mereka yang sukses untuk menangkap dan mengikuti tren yang sudah ada sebelumnya. Untuk mencapai sukses tersebut, ada empat hal penting yang harus dimiliki oleh game developer yaitu bagus secara teknis (Technical), bagus dalam model bisnis (Bussiness Model), memiliki tim yang solid (Team), dan yang terakhir adalah fleksibilitas untuk menjajal hal-hal baru (Flexibility).

Di akhir presentasinya, beliau memotivasi para game developer Indonesia untuk mendapatkan pangsa pasar di negeri sendiri. Indonesia memiliki pangsa pasar yang sangat besar, jadi memberikan kesempatan yang besar pula bagi para game developer untuk mendapatkannya. Syaratnya, para game developer harus bisa mempelajari pangsa pasar tersebut, dan menghasilkan game yang sesuai dengan pangsa pasarnya. Dia juga mengutip satu kutipan terkenal yang pernah diucapkan oleh Ken Kutaragi, “Go for it, and Get it!”.

Setelah presentasi, sesi jawab pun dilaksanakan dengan banyak pertanyaan menarik yang diberikan oleh peserta, salah satunya adalah seorang pengunjung yang menanyakan bagaimana masa depan konsol dengan hadirnya Wii U, dan bagaimana Sony menyikapinya. Menjawan pertanyaan ini, Mr. Utsumi mengatakan bahwa tren konsol tidak akan mati dan terus berlanjut, namun beliau masih belum bisa memastikan bagaimana persaingan konsol generasi selanjutnya dengan hadirnya Wii U, terutama dengan apa strategi Microsoft dan Sony dalam menyikapinya. Pertanyaan menarik lainnya adalah menyangkut bagaimana kualitas game developer Indonesia, apakah sudah bisa bersaing dengan game developer Jepang maupun negara lainnya. Menjawab pertanyaan ini, Mr. Utsumi menjelaskan bahwa sangat baik untuk mencari pasar di dunia internasional dan bersaing dengan game developer mancanegara. Namun, beliau menyarankan untuk mencoba pasar domestik dahulu, terutama bagi yang baru terjun di dunia game developer. Untuk menaklukkan pasar Internasional, game developer Indonesia bisa mencari partner dari mancanegara untuk menambah nuansa internasional dalam game yang dikembangkannya.

Sebagai informasi, Mr. Utsumi juga menjadi salah satu juri dalam Game Developer Award yang penjuriannya juga dilakukan di hari kedua IGS 2012 ini. Bagaimana serunya Game Developer Award, dan juga game-game apa saja yang ditampilkan para game developer lokal dalam IGS 2012 kali ini? Tunggu liputan booth tour dari kami! (Febrizio feat. Cornell)


SHARE
Previous articleHalo 4 Leaked, Microsoft Kebakaran Jenggot?
Next articleMode Baru Untuk Tekken Tag Tournament 2 Wii U Version
Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.