Review Need for Speed: Most Wanted Mobile, Ternyata Tidak Terlalu “Open World”

Bersamaan dengan versi konsolnya, Need for Speed: Most Wanted versi mobile juga dirilis kemarin untuk Android dan iOS. Juga menerapkan fungsi Autolog, Most Wanted menerapkan style baru game racing mobile dengan fitur integrasi jejaring sosial yang dalam.

Untuk versi mobile ini Electronic Arts menjualnya seharga US $7.12 di Google Play Store, dan US $6.99 di Apple App Store. Untuk dana yang kamu belanjakan tersebut, Fire Monkey sebagai developernya (yang juga mengembangkan serial Real Racing) menawarkan 35 mobil berbeda yang bisa kamu pilih untuk racing, mulai dari kelas eksotis seperti Lamborghini Aventador, sport car juara dunia seperti Porsche 911 Carrera S, hingga yang “bertubuh kekar” segala medan seperti Hummer H1. Tentu saja semua mobil tidak tersedia sejak awal. Seiring kamu bermain dengan baik, mendapatkan Speed Points (semacam XP selama bermain), kamu bisa membelanjakannya untuk membuka lebih banyak mobil lainnya.

Sebagaimana versi konsol, dan juga versi originalnya yang sudah dirilis tahun 2005 lalu, Most Wanted reboot ini tetap menyajikan style gameplay yang sama. Adrenalin bukan sekadar dipacu untuk menjadi nomor satu, namun juga dari tantangan menghindari para polisi yang mengejarmu karena kamu masuk dalam daftar most wanted. Kami juga mengapresiasi bagaimana Fire Monkey mencoba memberikan pengalaman mobile ini sedekat mungkin dengan konsolnya. Mobil yang kamu gunakan bisa rusak, dan efek kerusakannya terlihat begitu realistis…

Namun karena di sini mobil yang kamu gunakan seakan menjadi komoditas jualan, bukan barang koleksi, saya sendiri kadang cuek jika mereka sampai hancur parah — walaupun konsekuensinya langsung kalah dari race. Lho, kenapa? Karena berbeda dibandingkan konsolnya, dimana mobil bisa ditemukan dimukan dengan mudah di Fairhaven (setting game ini) dan kemudian di-upgrade dengan mengganti warna cat, jenis ban, suspensi, mesin, nitrous oxide, dan juga body kit-nya yang memungkinkan kita menabrak obyek namun dengan efek kerusakan lebih kecil. Jadi di versi konsol dan handheld, mobil – mobil tersebut bisa menjadi lebih berharga ketika sudah banyak di-upgrade. Kita pun menjadi lebih tertantang untuk mencegahnya rusak, daripada menghancurkannya dan beli lagi seperti di versi mobile ini.

Seperti yang kami katakan di atas, dan seperti tipikal game mobile lainnya, sistem microtransaction melalui in-app-purchase bakal menghantui permainanmu. Walaupun game ini tidak gratisan, namun Electronic Arts tetap men-charge uang yang ingin kamu dapatkan dengan cepat tanpa grinding. Pilihan in-app purchase-nya mulai Rookie Pack seharga $2.99, hingga yang paling mahal Speed Demon Pack dengan harga $14.99 — harga ini bervariasi tergantung wilayah. Jika tidak mau mengeluarkan uang lebih, tentu saja kamu perlu grinding memainkannya lebih lama, kumpulkan Speed Points untuk membeli mobil yang lain.

Perbedaan lain dibandingkan versi konsol atau handheld-nya, game ini membuang kesan dunia open world Fairhaven. Memang masih di lokasi yang sama, namun selama bermain jangan harap bisa bepergian kemana – mana dengan bebas. Jadi permainanmu dalam versi mobile ini hanya race, dapatkan lebih banyak mobil (termasuk menggantikan yang hancur, jika ada), dan menjadi pengendara paling  “Most Wanted” di Fairhaven. Setiap menang race, rank-mu naik, dan makin terbuka kesempatan menantang mobil lain yang lebih mahal atau lebih eksotis. Jika memang, kamu mendapatkannya… ya, setelah membelinya dengan Speed Points atau microtransaction.

Secara kontrol, seperti tipikal game racing mobile lainnya, acceleration di-set otomatis. Kamu hanya perlu terfokus pada mengendalikan mobilmu, ada touch whell virtual, dengan rem ditempatkan di sisi kiri layar, powerslide dengan menahan sisi kanan, dan mengaktifkan nitro dengan menyapukan jari ke atas layar. Atau kamu juga bisa mengendalikan dengan sensor gyroscope, walaupun menurut kami itu bakal lebih susah. Secara kontrol, overall versi mobile ini seperti game – game racing lain. Penulis merasa Asphalt 7: Heat lebih baik, meskipun di sini dengan penyesuaikan sebentar dan mengatur sensitifnya sentuhan juga bisa didapatkan pengendalian yang baik.

Grafisnya pun tidak mengecewakan. Bisa dikatakan setara dibandingkan dengan Asphalt 7, dan penulis memainkannya dengan lancar di Samsung Galaxy S III. Namun beberapa user dengan HTC One X melaporkan game ini berjalan agak nge-lag pada beberapa bagian, seperti kehilangan frame. Selain itu, ada juga yang mengeluhkan panasnya Android mereka ketika memainkannya — walaupun secara obyektif, rata – rata Android pasti juga terasa panas digunakan bermain game berat semacam ini, Untuk versi iOS-nya sendiri penulis tidak menemukan kendala. Kemudian fitur jejaring sosial dalam game melalui Autolog (yang memerlukan ID layanan EA Origin untuk mengaksesnya) juga berguna memberi kita informasi seperti leaderboard, siapa yang berada di puncak Wanted List (untuk emua platform lho ya, termasuk konsol dan handheld!) dan perbandingan SP (Speed Points) dengan pemain lainnya.

Kalau soal polisi yang mengganggu, memang tidak seberapa seram pengalamannya dibandingkan versi konsol atau handheld-nya. Namun mereka masih menyumbang rasa tegang selama bermain, karena bisa muncul darimana saja tanpa ada peringatan, hampir di semua race. Kemudian ketika berusaha menghindarinya mobilmu malah rusak atau bahkan hancur, otomatis kamu kalah dalam race walaupun saat itu berada di posisi pertama.

Keseluruhan vers mobile ini memang jauh lebih “kecil” dibandingkan konsol atau handheld-nya. Namun dengan minimnya pilihan game racing yang cukup ok untuk kelas mobile, Most Wanted tetap worthed dimainkan para penggemar racing mobile. Jumlah kendaraannya memang jauh di bawah Asphalt 7, namun faktor lain seperti para polisi pengganggu dan adanya Autolog sebagai media kompetisi membuat game ini juga terlihat menarik.

Need for Speed Most Wanted Mobile Trailer

Download:


SHARE
Previous articleForza Horizon Dapatkan Dukungan SmartGlass, Sementara untuk Windows 8
Next articleOBT Brawl Busters Dimulai Hari Ini!

Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY – yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi “ngoprek” smartphone.