Cuma Dapatkan Empat Poin, Indonesia Akhiri Piala AFF 2012 Lebih Awal

Piala AFF 2012 yang berlangsung di Thailand dan Malaysia memang baru akan berakhir pada 22 Desember 2012 yang akan datang. Namun bagi Indonesia, Piala AFF tahun ini berakhir lebih cepat karena kalah bersaing dengan Singapura dan Malaysia di grup B. Hanya mendapatkan empat poin dari tiga pertandingan, Indonesia gagal melangkah ke semifinal setelah mengakhiri fase grup Piala AFF di posisi ketiga, di bawah Singapura yang menjadi juara grup dan Malaysia di posisi kedua yang sama-sama mengemas enam poin.

Indonesia memang mengawali Piala AFF dengan start yang kurang meyakinkan. Digadang-gadang bakal pesta gol ke gawang Laos di pertandingan pertama, nyatanya Bambang Pamungkas dan kawan-kawan hanya bisa meraih satu poin setelah bermain imbang 2-2. Asa timnas Indonesia sebenarnya kembali memuncak di pertandingan kedua, dimana mereka mampu mengalahkan juara grup Singapura dengan skor tipis 1-0 lewat gol spektakuler dari Andik Vermansyah.

Euforia saat Andik Vermansyah mencetak gol ke gawang Singapura. Sayang, euforia ini tidak berlanjut saat melawan Malaysia

Sebenarnya dengan hasil empat poin dari dua pertandingan, Indonesia hanya butuh tambahan satu poin lagi, alias hasil seri di laga pamungkas melawan Malaysia, namun sayang hasilnya sangat mengecewakan. Sempat menekan di 20 menit awal pertandingan, Indonesia akhirnya harus kebobolan dua gol dalam rentang waktu empat menit. Di pertandingan lain, Laos yang di babak pertama sempat mengejutkan Singapura dengan unggul 2-0, akhirnya harus bertekuk lutut dengan skor 4-3. Jadilah Singapura dan Malaysia yang mewakili grup B untuk ke semifinal. Di pertandingan semifinal, Singapura akan melawan runner up grup A Filipina, dan Malaysia akan melawan juara grup A, Thailand.

Pengamat bola Budiarto Shambazy memiliki analisis menarik mengenai kegagalan Timnas kali ini. Menurutnya, ada dua hal yang membuat Timnas gagal berprestasi dalam turnamen kali ini. Yang pertama adalah performa dari Timnas sendiri, sedangkan yang kedua adalah kisruh dualisme PSSI yang saat ini terjadi. “Menurut saya tim ini menjanjikan. Pemain janganlah dicela. Tidak baik itu. Tim ini cukup menggembirakan. Mereka punya nyali, motivasi tinggi, bisa menghadapi pressure, tidak terpengaruh dengan konflik atau yang sering menjelek-jelekkan mereka,” ujar Budiarto seperti yang dikutip dari detiksport kemarin, 1 Desember 2012. “Tapi Malaysia memang secara teknis lebih unggul, dan pemain-pemain mereka lebih berpengalaman. Perlu dicatat, sebelum turnamen 90% pemain kita minim jumlah caps. Ya ini memang bukan pemain-pemain terbaik yang kita punya, karena diboikot (oleh KPSI), ” urainya lebih lanjut.

Pemain Timnas Indonesia saat merayakan gol Raphael Maitimo ke gawang Laos di pertandingan pertama.

“Kegagalan ini semacam refleksi buat pengurus yang bertengkar terus, PSSI lawan KPSI. Ini adalah hasil dari yang kalian ributkan, sehingga pemain jadi sasaran, padahal mereka sama sekali tidak menyandang kesalahan,” pungkasnya. Lebih lanjut, Budiarto juga mengkritisi tiga pihak yang harus bertanggung jawab terhadap jebloknya prestasi Timnas ini, yakni lemahnya kepemimpinan PSSI, KPSI yang terlalu banyak melakukan manuver, hingga menyesalkan pemerintah yang dianggapnya pasif.

Melihat apa yang ditunjukkan Timnas di Piala AFF, sebenarnya tim ini memiliki potensi. Kombinasi antara pemain muda dan pemain naturalisasi sebenarnya sudah cukup bagus. Namun kembali, pengalaman yang berbicara seperti yang dikatakan Budiarto tadi, rata-rata pemain Timnas saat ini minim caps. Setelah Piala AFF ini, agenda selanjutnya Timnas adalah kualifikasi Piala Asia 2015, dimana Indonesia tergabung dalam grup yang berat bersama dengan Iraq, China dan Arab Saudi.

Semoga kisruh sepak bola dalam negeri segera terselesaikan dan Timnas Indonesia bisa berprestasi kembali!

[Sumber: Detiksport, AFF Suzuki Cup 2012 Official Website]


SHARE
Previous articleCEO Yahoo: BlackBerry Bukan Smartphone?
Next articleAngry Birds Star Wars Walkthrough Part IV: Hoth

Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.