Duniaku Recap: Top Trending Articles of the Week!

Sepertinya di minggu ketiga Januari 2013 kemarin berita masih diwarnai cuaca yang tidak menentu. Siang panas, sore hujan lebat, banjir masih menghiasi kabar beberapa wilayah di Indonesia. Take care Citizen, jaga kesehatan kalian di tengah keadaan yang kurang mendukung aktivitas. Apalagi ini hari Senin, awal minggu dengan “seabrek” rencana seminggu ke depan. Dan seperti biasa, mengiringi minggu terakhir Januari 2013 ini, sebelum menikmati artikel baru kami sepekan mendatang, mari kita lihat kembali artikel apa saja yang menjadi highlight di Duniaku minggu sebelumnya.

Ada satu topik yang banyak dibicarakan seminggu kemarin, yaitu kabar mengenai kelanjutan pengajuan pailit raksasa game dunia, THQ, yang berakhir pengadilan dengan keputusan penjualan semua asetnya melalui lelang. Proses lelang berjalan lancar, dengan prediksi nilai lebih dari US $100, meskipun masih menyisakan beberapa property THQ lainnya yang menunnggu penawar baru minggu ini. Bukan berapa nilainya, siapa yang membelinya, atau bagaimana nasib franchise THQ nantinya. Kami lebih suka melihat jauh ke belakang.

Rata-rata game konsol original dijual $60, dan dari harga tersebut, teralokasikan lagi untuk biaya seperti proses programming, biaya pemasaran, bahkan retailnya saja sampai 20%. Seandainya di masa depan game memutus rantai distribusi dan hanya dipasarkan melalui digital download, seharusnya publisher dan developer jauh lebih untung.

Kami merasa perkembangan dunia game terlalu menuntut cost yang tinggi. Tidak seperti dulu, dimana biaya pengembangannya masih bisa dikatakan “wajar,” karena masih belum ada standar harus mendekati sinema interaktif dan membutuhkan budget setara film Hollywood. Dulu kita membaca dialog dengan karakter pixelated saja sudah bisa terharu. Maka saat ini, dengan perkembangan konsol yang mematok standar HD dan grafis yang wah, cost yang minim dengan grafis pixelated yang dihadapi developer / publisher game  jaman dahulu, tidak mungkin diterapkan lagi karena ukurannya sudah grafis dan tampilan yang mendekati film Hollywood. Dan untuk itu, biayanya tidak sedikit, yang imbasnya, perlu target penjualan tidak lagi ratusan ribu kopi untuk bisa meraih break even point, melainkan minimal 1 juta kopi! Dan apa jadinya jika tidak mencapai target? Penumpukan stock, dan tentu saja, penumpukan hutang.

Kalau penulis sih setuju saja jika game konsol dengan mudah bisa di-port ke smartphone / tablet… :)

Sepertinya memang dunia game perlu waspada dengan model bisnis membuat budget game setara dengan budget film Hollywood,  jika tidak ingin runtuhnya THQ juga dialami oleh raksasa lainnya. Well, tidak semua publisher punya dana berlebih seperti Activision, Electronic Arts, atau Ubisoft untuk dikucurkan dalam suatu proses development game. Atau mereka bisa mulai kembali melihat ke belakang. Kenapa dulu dengan hanya laku ratusan ribu kopi saja, sebuah game bisa mencapai break even. Kami sendiri menilai, justru dengan penampilan yang sederhana, atau standar budget yang tidak terlalu besar seperti tipikal game untuk Wii U, yang dengan mudahnya bisa di-port untuk platform lain (smartphone dan tablet), yang bisa selamat meski angka penjualannya belum mencapai target. Seperti diungkapkan CEO Ubisoft Yves Guillemot, “… create content that you will be able to port on the generations of tablets or phones that work well.”

Namun tidak bisa dipungkiri, game akan terus berkembang ke arah sinema  interaktif ala film Hollywood, yang makin lama cost pengembangannya bertambah, dan kebutuhan teknologinya juga meningkat. Dan saat ini juga sepertinya gamer sudah mulai bosan dengan apa yang ditawarkan mesin game generasi tujuh. Terlihat dari beberapa artikel mengenai rumor konsol next-gen PlayStation 4 dan Xbox 720 selalu “laris” disimak Citizen Duniaku. Mulai daftar rumor game-game yang sudah dikembangkan untuk konsol next-gen, langkap Sony yang bakal merubah desain kontroler PlayStation 4 serta mempesiunkan DualShock, bocornya spesifikasi Xbox 720 yang ketahuan menggunakan prosesor 8-core, hingga kembali Sony kecolongan dan development kit PlayStation 4 yang sejatinya dokumen internal juga ikut-ikutan dieksploitasi. Konsol next-gen memang selalu menarik, dan semoga saja standar cost untuk membuat gamenya tidak membuat developer dan publisher game kelimpungan untuk menutup modal mereka.

Setelah berita luar, kita beralih ke dalam negeri. Pada 17-20 Januari 2013 lalu, Duniaku menjadi salah satu narasumber dalam talkshow mengenai perkembangan IT & Gaming di Indonesia di event Wirausaha Muda Mandiri Expo 2013, bersama Google, Kaskus dan Agate Game Studio. Melalui acara yang digelar oleh Bank Mandiri sebagai wujud kepedulian terhadap pengembangan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) tersebut, Duniaku diwakili oleh Robby Baskoro dan juga Shienny dari Agatemenjadi pembicara dalam sesi Potensi & Pasar Game Nasional. Selain itu yang tak kalah menarik adalah pemaparan Arief Widhiyasa dari Agate bersama Logika Interaktif mengenai bagaimana Membangun Bisnis Game di Indonesia. So, bagi kamu-kamu yang sedang berencana memulai usaha, terutama di bidang IT dan game, semoga kisah sukses mereka yang telah berhasil menjadi entrepreneurship muda bisa menjadi inspirasi. Dan bicara mengenai inspirasi, kamu juga jangan lewatkan berita mengenai seorang nenek gamer, yang sudah bermain game selama 40 tahun… dan sampai sekarang masih terus berlanjut, karena dia ingin mempertahankan kesehatan mentalnya :)

Sebuah cross-over yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, meskipun itu di bawah alam bawah sadar para gamer… hehe :)

Di atas dsebutkan mengenai IT dan game… dua bidang yang memang saling berhubungan. Untuk game sendiri, seperti biasa, Duniaku memiliki beberapa content menarik yang difavoritkan pembacanya. Kita mulai dengan strategy RPG kolaborasi Bandai Namco dengan Sega dan Capcom, Project X Zone, yang akhirnya bakal diterjemahkan ke Amerika dan Eropa. Apa yang menarik di game ini tak lain karena 50 karakter playable dari 29 game, yang diambil dari franchise terkenal Namco Bandai, Sega, dan Capcom. Kemudian kabar mengenai dugaan juga dirilisnya Grand Theft Auto V untuk PC, banyak disambut baik oleh para gamer yang masih setia ngoprek PC hanya untuk memainkan game-game terbaru.

Lumina, seperti biasanya, kostum para personil Final Fantasy (khususnya FF terbaru lah!) lama-lama bisa diadaptasi para desainer busana top dunia, dan berakhir di atas catwalk… :)

Lightning Returns: Final Fantasy XIII juga masih laku di mata para gamer. Meskipun sekadar perluasan cerita dan karakter yang itu-itu saja, namun gamenya Square Enix yang menurut penulis kini seakan hanya menjual karakter dengan kostum keren berjalan di atas “catwalk dunia RPG” tersebut rupanya banyak yang menunggu kabar terbarunya. Berita game lainnya yang cukup ramai pekan kemarin antara lain: resmi dikonfirmasikannya port Resident Evil: Revelations untuk konsol, Naruto Shippuden: Ultimate Ninja Storm 3, serta kabar paket download kostum old Dante untuk DmC: Devil May Cry.

Coba kalian amati, apa saja perbedaannya secara desain dibandingkan Galaxy S III yang terkenal laris manis itu :) 

Itu untuk game, bagaimana dengan berita teknologi di Duniaku? Beberapa artikel menarik Duniaku untuk kategori iptek juga ramai menjadi trending. Terutama untuk samrtphone yang beberapa hari kemarin muncul iklannya di televisi, cukup mendongkrak kepopulerannya di mata para penggemar gadget. Tak lain Samsung Galaxy S III mini, yang akhirnya setelah pertengahan Desember 2012 lalu masih dalam tahap uji coba, dirilis oleh Samsung Indonesia pekan kemarin. Bisa jadi karena dukungan nama Galaxy S III, dan harga yang hanya separuhnya, si mini tersebut banyak dicari. Dan kamu yang sudah kepincut ingin membelinya, simak dulu reviewnya di Duniaku, yang membandingkannya dengan Android lain di kelasnya, LG Optimus L9.


SHARE
Previous articleAnna Paquin, Ellen Page dan Shawn Ashmore Beraksi Kembali di X-Men: Days of Future Past
Next articleBlackBerry Z10 Mulai Dijual 5 Februari Dengan Harga Rp 7 Jutaan!
Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.