Live from TGS 2013: Lebih Dekat dengan Indonesian Game Studios

Kompaknya para developer game Indonesia

Tahun ini adalah kali kedua saya mengawal rekan-rekan Indonesian Game Studios di Tokyo Game Show. Digagas oleh Altermyth, tahun lalu booth Indonesian Game Studios ini hanya diisi oleh Altermyth dan Agate Studio saja. Yang membanggakan, tahun ini ada lima studio game yang bergabung. Selain dua studio sebelumnya, kini ada Artoncode Indonesia, TouchTen Games, dan Toge Productions. Mereka adalah ujung tombak studio game Indonesia yang berlaga di pentas Tokyo Game Show.

Berlokasi di Asia New Stars, booth Indonesian Game Show bertujuan untuk mengenalkan game-game buatan Indonesia kepada dunia lewat Tokyo Game Show. Selain Indonesia, di Asia New Stars juga ada perwakilan Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, Vietnam, dsb.

Bagi saya, yang membuat Indonesian Game Studios lebih unggul adalah kebersamaannya. Jika studio-studio Asia lainnya berdiri sendiri-sendiri dan mewakili studio-nya masing-masing, maka di Indonesian Game Studios hal tersebut tidak terasa. Dari booklet-nya saja, kita bisa merasakan kalau Indonesia ini menjadi satu. Booklet ini juga sangat memudahkan pengunjung yang datang. Mereka tidak perlu mengambil selebaran/brosur masing-masing studio, melainkan cukup hanya dengan membawa booklet Indonesian Game Studios.

Barong menjadi maskot Indonesian Game Studios tahun ini
Booklet katalog Indonesian Game Studios
Memutar trailer dan mendemokan game-game Indonesia

Dalam kesempatan ini, Duniaku menyempatkan diri untuk duduk dan diskusi bersama Adhi Trahano dan Billy Kenawat dari Altermyth, yang bertugas untuk menggawangi booth Indonesian Game Studios. Berikut cuplikannya:

Duniaku (D): Hi guys, perkenalkan diri kalian dong?

Dion (DA): Saya Adhi Trahano, Development Manager Altermyth, biasa dipanggil Dion.

Billy Kenawat (BK): Saya Billy Kenawat, Public and Community Relations Altermyth.

Billy Kenawat
Dion Altermyth

(D): Jadi ini pertama kali kalian ke TGS?

(DA): Untuk Altermyth, ini pengalaman kedua. Namun untuk kami, ini yang pertama.

(D): Bagaimana kesan-kesannya selama di TGS?

(DA): Cukup kagum dan bangga banget Indonesia bisa ada di TGS. Kita dulu kan cuma bisa lihat TGS dari majalah dan TV, dan sekarang kita diundang ada di TGS.

(BK): Kalau aku tahu TGS kebanyakan dari media online. Dari Duniaku.net tuh, aku sering banget baca. Khususnya artikel-artikel tentang TGS tahun lalu. Kesannya bangga banget bisa ke sini, ke Jepang, kaya kiblatnya game di Asia.

(D): Apa misi utama kalian di TGS ini?

(DA): Ketemu banyak orang, memberitahu tentang bisnis-bisnis game yang ada di Indonesia, memberitahu seputar studio-studio game di Indonesia, dan mereka interested banget dengan Indonesia.

(BK): Aku ingin belajar banyak tentang game di Jepang, kemudian mencari tahu apakah ada kemungkinan game Indonesia bisa dipasarkan di Jepang. Sebaliknya juga begitu, Jepang kan saat ini sedang tertarik banget dengan pasar Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Kita mencari peluang juga untuk memasarkan game mereka di Indonesia.

(D): Bagaimana respon publik Jepang terhadap game-game Indonesia?

(DA): Kebanyakan mereka penasaran dengan Indonesia.

(BK): Walau kita sudah dua kali di sini, banyak yang belum tahu Indonesia itu seperti apa. Bagaimana market di Indonesia, bagaimana cara publish game mereka di Indonesia, dan banyak lah.

(DA): Publisher-publisher dari luar, bukan hanya Jepang, juga pada tanya. Mereka ingin tahu game-game di Indonesia itu seperti apa. Nah, di sini kami kasih tahu game-game dari Altermyth, Agate, TouchTen, dsb. Dan mereka sangat senang melihat game-game dari Indonesia.

Kaos bertanda tangan Zico (game TouchTen) yang menarik publik Jepang

(D): Terus kenapa sih namanya Indonesian Game Studios? Kenapa nggak bawa bendera sendiri aja? Altermyth, gitu.

(BK): Kita itu di sini sebetulnya bukan mewakili satu perusahaan tertentu. Kita ini representatif dari Indonesian Game Studios. Studio-studio game di Indonesia. Jadi kita di sini mengenalkan game-game Indonesia dan developer-developernya.

(DA): Dengan membawa bendera Indonesia, kita ini jadi lebih besar. Yang paling menarik adalah banyak sekali perusahaan-perusahaan game Jepang yang melihat game-game Indonesia kemudian mengajak untuk bermitra. Mereka mendistribusikan gamenya di Indonesia, juga ingin memasarkan game-game Indonesia di Jepang. Itu yang sangat membanggakan, karena mereka ternyata tertarik dengan game-game Indonesia. Dan itu karena kita membawa nama Indonesia.

(D): Sebetulnya bisa ikut berada di TGS ini kan menjadi sebuah potensi yang sangat besar. Sayangnya, belum semua studio game ikut bergabung. Kalian ada pesan untuk teman-teman yang belum ikutan?

(DA): Yang pasti sih teman-teman kalau bisa datang lah. Di sini kan banyak perusahaan-perusahaan Asia lain yang bikin booth-nya itu habis-habisan. Terus terang, kita agak iri jadinya. Kalau misalkan semua studio game Indonesia pada ngumpul semua, kan kita bisa buat booth ini lebih besar lagi. Jadi nggak hanya 10×10 lah. Siapa tahu nanti kita bisa buat booth sendiri-sendiri. Ada booth Altermyth, ada Agate, ada Artoncode, dan lainnya. Yang penting kita bersatu dulu. Tunjukkan dulu di sini kalau kita itu besar. Kita itu banyak.

(BK): Kita itu emang beda-beda. Tapi lihat lagi ke slogan negara kita: Bhinneka Tunggal Ika. Meski kita ini beda-beda, tapi tetap harus satu. Kita ini mewakili Indonesia, jadi harus satu. Buat teman-teman yang masih sendiri-sendiri, ayo bergabung jadi satu. Kita sangat terbuka, dan kita siap majukan Indonesia bersama-sama.

Booth Indonesian Game Studios

(D): Terakhir, apa sih harapan kalian dari TGS ini?

(DA): Harapannya kita bisa punya satu game untuk konsol di event selanjutnya. Jadi kita bisa demokan PS4 dan game Indonesia di dalamnya. Dan aku bisa dengan bangga sampaikan ke semua orang yang datang ke booth kita bahwa ini adalah game made in Indonesia.

(BK): Karena kita udah di Jepang dua kali, harapanku sih kita nggak hanya di Jepang aja. Aku pengen tahun depan kita ada di E3, di Gamescom, di China Joy, dsb. Jadi kita kibarkan bendera Indonesia di semua game show dunia.

(D): Amiiin. Thanks guys untuk waktunya. Sampai ketemu di event selanjutnya.


SHARE
Previous articleAr Tonelico dan Ciel no Surge Bergabung Menjadi Ar no Surge
Next articleLiputan Duniaku Checkpoint: Serunya Talkshow NusantaRanger!
Mengawali karier menulisnya pada tahun 1997 sebagai kontributor rubrik game majalah Mentari Putera Harapan. Namanya mulai dikenal setelah dia turut membidani lahirnya majalah game pertama di Indonesia, Game Master. Begitu banyak majalah yang lahir dari buah pemikirannya. Sebut saja Game Master, 3D Magazine, Ultima Nation, hingga Zigma dan Omega. Tidak hanya dikenal sebagai jurnalis dan konseptor, GrandC juga seorang penulis cerita. Saat ini dia banyak disibukkan dengan pengembangan Vandaria, dunia fiksi ciptaannya.