6 Hal Tentang Jakarta yang Membuatmu Depresi

Kalau pindah ke Jakarta pasti akan mengalami beberapa culture shock. Memang rasanya wajar, karena Jakarta ini Ibukota, tempat semua orang berkumpul dan bergumul mencari rejeki sehingga semua macam harapan dan niatan bercampur baur.

Namun kejutan ini lebih dari semua itu, bukan masalah jumlah orang, bukan juga karena bermacam macamnya niat. Tapi dinamika metropolitan telah membentuk suatu nilai baru yang dianggap wajar di Jakarta. Inilah culture shock yang mungkin membuat kamu depresi tentang Jakarta.


6

Tidak Ada Otoritas


 

hansip dan pak rt

Pertama kali saya pindah ngekost di Jakarta, sama sekali tidak jelas siapa yang berwenang di wilayah ini. Tidak ada kewajiban tamu lapor ke satpam, tidak ada formulir yang harus diisi, tidak ada pejabat yang harus disamperin. Pindah ya pindah saja, asal punya KTP dan bisa bayar sudah cukup.

Hal ini sangat kontras di kota tempat saya tinggal dahulu, peran Satpam dan RT begitu kental sehingga tidak ada mobilitas penduduk yang luput dari pengawasan oleh para otoritas tersebut. Saya mungkin bisa bayangkan hal yang sama terjadi di kampung bahkan drngan peran otoritas yang lebih dominan lagi. Peran Otoritas ini rasanya penting karena di wilayah tertentu harus ada seseorang bertanggung jawab atas segala sesuatu di wilayah tersebut.

Awalnya saya berpikir ini karena awalnya saya hanya ngekost-temporer tentunya, namun beberapa rekan yang akhirnya memutuskan membeli rumah di beberapa komplek mengalami kejadian senada. Kehadiran aparatur hanya hadir untuk memungut uang iuran saja, bukan melakukan sesuatu yang lebih penting yaitu “hadir” sebagai pihak yang bertanggung jawab di wilayah tersebut.


5

Fast Food itu Pilihan Makanan paling Masuk Akal


fast food jakarta

Pernahkah makan di restoran di Jakarta, selain mahal biasanya rasa masakannya juga tidak selalu terjamin. Pernah suatu ketika kami makan di suatu tempat di Jalan Senopati, cabang dari soto terkenal dari tempat asal saya. Tidak pernah saya bayangkan kalau cabang soto super terkenal tersebut rasa makanannya seperti beda resep sama sekali. Dalam beberapa kesempatan yang lain saya mencoba makanan pinggir jalan, sangat jarang saya temukan warung pinggir jalan yang rasa masakannya enak.

Di kota tempat saya tinggal, rasa makanan adalah sesuatu yang mudah sekali dicari, makanan restoran hampir selalu rasanya enak, bahkan mayoritas kaki lima pun menyajikan rasa yang masuk akal. Seakan di kota saya, jika ada yang berani membuka warung, sudah berani untuk memastikan rasa masakannya disukai orang.

Saya sekarang memahami kenapa fast food menjamur di Jakarta, hampir di setiap perempatan strategis kamu bisa jumpai berbagai macam merk dan cita rasa. Jenis restoran ini memberikan kepastian harga dan kualitas rasa yang jelas. Hal yang tidak bisa ditawarkan oleh banyak restoran yang bertaburan di Jakarta. Jika ingin makan di tempat baru selain fastfood kita mungkin perlu bergantung bantuan aplikasi.


4

Kamu (Hampir) Tidak Kenal Siapapun di Tempat Tinggalmu


tidak kenal siapapun

Pada saat saya ngekost di Jakarta, suasana egaliter dan nuansa lu lu gue gue nya sangat kentara. Sampai sampai beberapa bulan awal saya tidak kenal siapa yang ada di kamar sebelah, apalagi tetangga sebelah. Sebenarnya sih awalnya saya sudah menduga bakalan seperti ini, tapi ya tidak sampai begini juga.

Kalau ditanya, kenal berapa orang sih yang kamu kenal tempat tinggal kamu sekarang, mungkin saya hanya kenal orang punya kostan, orang yang parkirnya selalu menyusahkan kendaraan saya keluar, sama satpam yang buka tutup portal kalau pulang kemalaman. Udah, itu doang, kita kenal orang yang kita terpaksa berinteraksi saja.

Di tempat saya tumbuh dahulu, walaupun juga termasuk komplek perumahan, saya kenal hampir semua orang, tetangga, satpam, tukang sampah, pak RT, Pak RW, tukang becak. Semuanya sangat berbeda, kita kenal karena berada di sana, bukan karena membutuhkan.

Memang sih ada gak enaknya, bakalan selalu ditanyain kalau ada hajatan atau urusan, yah tapi saya lebih memilih hal tersebut.


3

Orang Nongkrong Malam Malam


nongkrong

Hal baru yang saya cermati adalah setiap afa tempat agak strategis, pasti dipakai nongkrong, mau tempat fast food, minimarket, pinggiran jalan yang ada lampunya, bahkan taman kumuh yang ada di setiap tempat di Jakarta. Entah apa yang dilakukan orang yang nongkrong itu, yang jelas mereka nampak bahagia dengan kebiasaan ini. Kebiasaan ini bakalan memuncak pada saat malam yang besoknya libur, semuanya nongkrong sampai pagi.

Mungkin saya anak rumahan yang tidak paham kebiasaan tersebut. Untuk mencoba memahami kebiasaan ini, beberapa kali saya coba menghabiskan waktu di tempat nongkrong itu, anehnya saya cermati mayoritas orang  yang nongkrong itu melototin hp nya terus terusan, dan sesekali kemudian menelpon orang yang entah ada dimana. Lha kalau cuma begitu saja ngapain ketemuan dan nongkrong boss, dirumah saja kan enak.

Kadangkala yang membuat miris, orang tua juga sering mengajak anaknya yang masih balita ikut nongkrong, herannya adalah kegiatan yang dilakukan tidak jauh dengan orang nongkrong lainnya. Melototin Hp dan telepon telepon, sungguh aneh.


2

Kita Jadi Waspada Terhadap Yang Menyapa di Jalan


7

Beberapa pengalaman saya berjalan kaki di Jakarta mengajarkan saya bahwa disapa orang yang tidak dikenal di jalan bukan pertanda baik. Paling bagus ngajak menyumbang ke salah satu yayasan atau jika apes itu menjadi tanda akan ada yang berusaha menipu. Saya mungkin tidak perlu jelaskan apa saja kemungkinan yang terjadi, karena sudah banyak media yang membahas.

Karena pernah mengalami beberapa pengalaman buruk, secara insting saya langsung menaikkan kadar kewaspadaan ke tingkat paling tinggi jika ada yang menyapa di jalan. Sesuatu yang aneh, karena kita makhluk sosial, kita harusnya senang jika ada yang mengenal kita di jalan.

Ini bukan masalah tingkat kriminalitas, ini lebih memang di Jakarta masyarakat menganggap wajar hal tersebut terjadi di jalan. Saya percaya salah satu tugas besar pemerintah kedepan adalah memastikan masyarakat tidak perlu mewaspadai orang yang menyapa di jalan.


1

Segala Sesuatunya Tampak Tidak Ramah.


Untuk menggambarkan kondisi ini saya mencomot satu gambar di internet yang menggambarkan bagaimana situasi balaikota tempat asal saya.

balaikota surabaya
credit to mukrifah

Jika dicermati, gambar tersebut secara langsung menjelaskan kenapa segala sesuatu yang ada di Jakarta tidak ramah. Selama saya di Jakarta tidak pernah saya menjumpai kondisi seperti ini terjadi. Lebih lagi di kantor kantor pemerintahan yang tujuan didirikannya adalah melayani rakyat.

Walaupun demikian saya pribadi percaya bahwa jakarta akan menjadi lokasi yang lebih ramah kedepannya dengan hadirnya pemerintahan baru yang dimpimpin @basuki_btp ini.


SHARE
Previous articleBig Update Regeneration, Sekarang Kamu Bisa Jadi Pelatih Tari di Touch
Next articleKemenkominfo: FIKTIF Siap Menjadi Wadah Bagi Para Pelaku Industri Teknokreatif Indonesia