Alkemis Games, Ingin Jadi Supercell-nya Indonesia!

Alkemis Games
Tedo Salim (paling belakang) bersama kru Alkemis Games

Tahun 2014 ini semakin banyak studio game baru bermunculan di Indonesia. Alkemis Games yang berdiri di Surabaya pada Agustus 2014 lalu adalah salah satunya. Alkemis Games didirikan oleh Tedo Salim, seorang warga asli Surabaya yang menghabiskan sekitar 20 tahun menimba ilmu di luar negeri, mulai dari kuliah di Singapura dan Amerika, hingga menjadi software engineer di beberapa studio game Amerika seperti Schell Game dan GREE.

Nama Alkemis Games semakin melambung setelah awal bulan ini berhasil mengumumumkan investasi yang mereka dapatkan dari East Ventures dalam jumlah yang tidak disebutkan. Kali ini Duniaku mendapatkan kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Tedo Salim mengenai sejarah berdirinya Alkemis, tentang game yang tengah mereka kembangkan, hingga tips bagi developer game Indonesia lainnya yang ingin mendapatkan investasi dari Venture Capital (VC). Yuk simak wawancara kami berikut ini!

duniaku-alkemis-4

Duniaku (D): Pertama mungkin bisa dijelaskan dulu, kisah berdirinya Alkemis Games ini seperti apa?

Tedo (T): Dulu sebenarnya kita mulai saat saya masih di Amerika. Saya ketemu via online dengan dua orang yang berdomisili di Surabaya. Terus kita udah oke, sepakat untuk kerja sama membangun Alkemis, baru akhirnya saya pulang ke Surabaya dan membentuk studio ini pas awal Agustus, sesudah Lebaran 2014 lalu. Awal pembentukan Alkemis ada dua orang dengan saya sebagai founder, yang satunya lagi baru bergabung setelah sebulan Alkemis berdiri.

D: Jadi kegiatannya baru mulai awal Agustus itu ya?

T: Sebenarnya dulu sudah mulai sedikit-sedikit sih, tapi ada kendala karena tidak bertemu langsung face to face. Paling tiap hari cuma ketemu via Skype, jadi progress-nya bener-bener kurang. Kendala yang lain adalah waktu itu saya juga masih bekerja di GREE.

D: Untuk nama Alkemis sendiri inspirasinya dari mana?

T: Jadi nama Alkemis sendiri datang dari Alchemist, satu profesi yang pernah ada di jaman medieval dulu. Alchemist sendiri tujuan utamanya adalah membuat batu-batu biasa menjadi batu-batu yang berharga seperti emas dan berlian. Jadi mengambil sesuatu yang normal dan mengubahnya menjadi sesuatu yang ajaib dan berharga. Saya sendiri memang suka dengan konsep Alchemist itu, jadi akhirnya kita pilih nama tersebut dan diubah menjadi Alkemis.

duniaku-alkemis-3

D: Bisa diceritakan pengalamannya bekerja di studio game sebelum membentuk Alkemis? 

T: Sebelumnya, saya kerja di GREE selama tiga tahun sebagai software engineer. Sebelum di GREE saya juga sudah bekerja di salah satu perusahaan game yang tidak sebesar GREE sih, namanya Schell Games selama tiga tahun. Meskipun tidak sebesar GREE, tetapi mereka sering terima jasa yang menarik dari perusahaan papan atas seperti Disney. Salah satunya adalah membuat program untuk wahana yang ada di Disney World Orlando seperti Toy Story Mania.

D: Susah gak sih bagi studio seperti Alkemis untuk membentuk tim di Surabaya?

T: Mungkin kita beruntung, karena waktu saya cari tim inti cukup lancar. Saya rasa tim ini sudah bagus. Tapi saat ini kita mau berkembang, nyari tim lagi ternyata tidak selancar waktu mulai dahulu. Hehe.. Lebih susah cari programmer dibandingkan artist-nya. Susah cari programmer karena kita gak pake Unity, kita lebih milih Cocos2DX yang lebih teknikal. Jadi kita butuhnya technical skill-nya yang lebih mendalam.

D: Tim Alkemis sendiri saat ini sudah ada berapa orang?

T: Sekarang kita udah punya 3 orang programmer, 5 orang artist dan animator 2 orang. Termasuk saya jadi total ada 11 orang.

Zero Legend
Versi awal dari Zero Legend

D: Masuk ke game-nya nih, Zero Legend idenya terinspirasi dari mana?

T: Zero Legend sebenarnya baru nama sementara. Hehe. Nanti kita akan bikil survei lagi untuk menentukan namanya. Zero Legend kita menarget gamer mid core untuk pasar global, terutama Amerika. Idenya kita mengambil mekanisme dari sebuah game dari China yang berhasil memuncaki Top Grossing App Store China. Game-nya pakai karakter-karakter Dota, tapi gameplay-nya tidak mirip sama sekali dengan Dota. Mekanisme dari game tersebut jadi inspirasi kita, tentunya nanti lebih kita perbaiki lagi dunianya, user interface-nya dan juga progression system-nya.

Sekarang sih sudah banyak game-game semacam itu contohnya Heroes Charge yang meniru persis dengan game China tadi, cuma beda di grafis aja. Nantinya karakter-karakter dari Zero Legend merupakan karakter original dari kita, lantas nanti kita tambah fitur-fitur sendiri yang kita rasa akan menambah nilai dari gameplay-nya.

D: Target Alkemis sendiri apa sih?

T: Target kita sih jelas, kita ingin bikin game yang bisa monetize secara global.

D: Kalau melihat game developer di Amerika dengan Indonesia, perbedaan paling besar apa yang dilihat?

T: Kalau di Indonesia, saya lihat masih banyak developer yang membuat game hanya untuk memuaskan idealismenya. Saya lihat kebanyakan developer di Indonesia mindset-nya seperti itu. Mindset seperti “marilah kita bikin game yang kita rasa seru untuk dimainkan” masih banyak saya lihat. Di Amerika sendiri juga ada sih studio-studio yang masih memiliki semangat idealisme seperti itu.

Padahal kalau di mobile gaming, game-game yang lahir dari idealisme seperti itu susah untuk sukses. Ada sih beberapa contoh yang sukses, tapi sebagian besar sulit. Di Amerika, studio yang masih jalan dengan baik sampai saat ini adalah studio yang sudah menentukan dengan jelas tujuan game-nya, monetisasinya seperti apa dan viral-nya seperti apa.

Zero Legend

D: Proses pengembangan game di Alkemis sendiri seperti apa?

T: Pertama-tama kita bikin market research untuk mencari tahu mekanisme gameplay apa yang tengah ngetop di beberapa negara. Selanjutnya kita bikin game untuk masuk ke market tersebut.

D: Impian terbesar dari Alkemis sendiri apa?

T: Mungkin untuk Alkemis, impian terbesar kita adalah untuk menjadi seperti Supercell! Semoga Alkemis suatu hari bisa menjadi seperti itu. Mungkin bukan cuma Alkemis, tapi siapa tahu ada developer Indonesia lain yang bisa mencapai seperti itu, bagus untuk pertumbuhan industri game Indonesia.

D: Oh iya, selamat atas funding yang didapat dari East Ventures kemarin. Bisa ceritakan dikit prosesnya seperti apa?

T: Kita mulai cari-cari dan ngobrol dengan investor sebenarnya sejak awal tahun 2014 lalu. Akhirnya ketika saya kembali ke Indonesia dan sudah ada tim, baru negosiasinya berjalan lebih serius lagi. Tetapi masalah perkenalan, sharing ide itu sudah mulai sejak awal tahun.

D: Ada tips trik dari Tedo untuk studio game Indonesia yang saat ini juga tengah mencari investor?

T: Sebagai perusahaan yang mau cari investor, perusahaan itu perlu ada perencanaan bisnis yang jelas. Bagaimana meraih targetnya, dan targetnya itu apa. Jadi istilahnya kita ada proyeksi ke depan seperti apa, maunya bagaimana. Visi dan misi itu mesti kita sampaikan dengan jelas kepada investornya dan buat mereka percaya kalau kita bisa mencapai visi misi itu.

Kedua sebagai game studio, membuat game hanya dengan semangat atau sense of idealism aja itu tidak cukup. Mesti ada strategi yang jelas bagaimana untuk monetisasi game-nya. Investor kan juga pengen lihat bagaimana perusahaan ini nanti bisa sukses ke depannya. Jadi perlu ada rencana game-nya akan seperti apa monetisasinya. Jadi pikirkan, apa yang membuat game-mu monetize di Indonesia atau di pasar global.

Zero Legend

D: Untuk game pertamanya nanti, target rilisnya kapan?

T: Untuk Zero Legend, kita target soft launching pada Maret atau April. Dari situ kita akan terus kembangkan dengan berbagai update, event dan sebagainya untuk maintain player-nya. Karena peraturan penting dalam sebuah game free to play adalah gak boleh ada batas. Jadi harus ada update berkelanjutan.

D: Kemarin sempat datang ke GDG ya? Tanggapannya tentang GDG sendiri gimana?

T: Seru sih! Saya sebelumnya gak nyangka ada acara seperti ini di Indonesia. Selama di Amerika jujur saya belum pernah denger mengenai industri game Indonesia. Waktu balik ke sini baru saya denger ada beberapa studio game Indonesia yang besar seperti Touchten, Altermyth dan Toge Productions, serta kenal dengan Anton Soeharyo (CEO dari Touchten) dan Dien Wong (CEO dari Altermyth).

GDG ini mirip sekali dengan Game Developer Conference (GDC). Sebelumnya setiap tahun saya selalu mengikuti GDC dan melihat ada kemiripan antara GDC dengan GDG. Menurut saya, GDG saat ini seperti GDC waktu baru mulai dahulu. Semoga ke depannya GDG bisa kayak GDC!

Booth Alkemis Games di GDG 2014 lalu
Booth Alkemis Games di GDG 2014 lalu

D: Terima kasih atas waktunya. Sukses terus untuk Alkemis Games dan juga proyek Zero Legend-nya!

T: Terima kasih juga!

Oiya, kepada Duniaku, Tedo juga mengungkapkan bahwa Alkemis kini juga tengah mencari talenta-talenta baru untuk bergabung bersama tim mereka. Jika kamu tertarik untuk menjadi bagian dari Alkemis Games, kamu bisa langsung menuju ke website resminya.


SHARE
Previous articleOperation Babel: New Tokyo, Lagi-lagi Dungeon Crawler RPG yang Eksklusif PS Vita
Next articleKreatifnya Capcom, Kini Seluruh Isi Kebun Binatang Dimasukkan Dalam Ultra Street Fighter IV
Ex Managing Editor majalah Zigma dan Omega yang mengawali karirnya sebagai kontributor sebuah blog teknologi. Febrizio dikenal juga suka dengan teknologi, film, pengembangan software, perkembangan sepakbola, serta saat ini juga mulai tertarik untuk mempelajari proses pengembangan game.