Review Hujan Bulan Juni: Perkawinan Film dan Puisi

review hujan bulan juni

Film ini berusaha mengawinkan narasi film yang tersurat dengan puisi Sapardi Djoko Damono yang tersirat. Simak hasilnya lewat review Hujan Bulan Juni berikut ini.

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Itulah sebait puisi Aku Ingin oleh pujangga gaek Sapardi Djoko Damono. Puisi yang ditulisnya tahun 1989 ini kemudian banyak memperkenalkan nama Sapardi kepada orang awam. Puisi-puisi Sapardi sangat indah dan banyak berbicara tentang cinta serta Tuhan. Barangkali karena itulah karyanya digemari banyak orang.

Baca Juga

Sejak masih SMA tahun 1957, Sapardi sudah mulai menulis. Puisi-puisinya dari tahun 1959 sampai 1994 kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku berjudul Hujan Bulan Juni yang terbit tahun 1994.

Banyak orang sudah mengadaptasi puisi Sapardi, termasuk musikalisasi. Kali ini di tahun 2017, puisi-puisinya divisualisasi lewat film berjudul sama yang sedang tayang sekarang.

Sebelum masuk ke review Hujan Bulan Juni, ada baiknya baca sinopsis di bawah ini terlebih dahulu.

Sinopsis

Suatu hari, hiduplah Sarwono (Adipati Dolken) dan Pingkan (Velove Vexia), dua sejoli yang menghabiskan hidupnya di lingkungan universitas. Sarwono adalah akademisi antropologi dan Pingkan seorang dosen muda yang dapat kesempatan kuliah di Jepang selama 2 tahun.

Takut kesepian dan khawatir kekasihnya direbut Katsuo (Kaukaro Kakimoto), Sarwomo mengajak Pingkan untuk menemaninya bertugas ke Manado. Di sanalah Pingkan bertemu dengan keluarga besar dari ayahnya, termasuk sepupu Ben (Baim Wong), yang membombardirnya dengan sejuta pertanyaan karena Sarwono seorang Jawa.

Bagaimanakah keduanya bisa bertahan? Simak review Hujan Bulan Juni di bawah ini.

Cinta yang Dewasa

Film Hujan Bulan Juni bukanlah tipikal konflik percintaan yang cengeng seperti film-film remaja pada umumnya. Ia terlihat lebih dewasa, terutama jika kita melihat cara Sarwono dan Pingkan memaknai hubungan mereka.

Keduanya sering membahas soal ketakutan jikalau salah satu dari mereka direbut orang. Tidak ada acara ngambekan karena yang kurang perhatian atau acara banting-banting piring. Ada masalah kompleks tentang perbedaan suku dan keyakinan dalam hubungan mereka.

Sarwono adalah orang Jawa-Islam dari Solo. Kulitnya yang cokelat dan logatnya yang Boso Jowo mudah dikenali. Dan hal tersebut menjadi bahan perbincangan keluarga Pingkan yang seorang keturunan Minahasa-Kristen.

Tapi beginilah indikator kedewasaan film ini: masing-masing dari Sarwono dan Pingkan tidak buru-buru mewek dan masuk mode melodramatis ketika dihadapkan pada situasi rumit seperti itu.

Ketika ditanya Ben soal kemungkinan memakai jilbab, Pingkan santai-santai saja. Ini menunjukkan bahwa baik Sarwono maupun Pingkan sudah melihat hal yang lebih besar daripada sekadar latar belakang.

“Di Manado enggak ada bandara, ya,” ujar Sarwono pada Ben, dengan bandara sebagai kiasan atas modernisasi. Padahal mereka berdua habis check in mau naik pesawat.

Hujan Bulan Juni memilih untuk menyalurkan emosinya lewat analogi bait-bait sajak dari Sapardi Djoko Damono. Maka atas pilihan ini, sutradara Hestu Saputra (Cinta Tapi Beda, Air Mata Surga) dan penulis naskah Titien Wattimena (Mengejar Matahari, Salawaku) punya beban untuk mengawinkan medium film dengan puisi.

Dan ternyata itu tidak berjalan begitu baik.


Alih bentuk dari puisi menjadi film dalam Hujan Bulan Juni tak berjalan lancar. Simak mengapa dalam review Hujan Bulan Juni selanjutnya di halaman sebelah!

1
2
REVIEW OVERVIEW
Skor Film
50 %

SHARE
Previous articleInilah Perbedaan Antara Kaijin dan Kaiju di Serial Tokusatsu
Next article6 Stand Lemah JoJo’s Bizarre Adventure yang Dimanfaatkan dengan Mantap oleh Penggunanya
Merayakan film dan mengolok Liverpool.