Seniman Malaysia Menuding Is Yuniarto Meniru Desain Fusion Wayang Kulitnya

Kalau menurutmu memang sama atau beda nih?

Baru-baru ini ramai di sosial media tentang wayang kulit bertemakan Pop Culture.

Kalau dari Indonesia ada kreator Indonesia yang membuat wayang kulit Avengers dan terkenal juga, yaitu Is Yuniarto (GarudayanaGundalaThe Grand Legend Ramayana).

Saking terkenalnya, Is Yuniarto tahun lalu bahkan memberikan wayang kulit Avengers: Infinity War karyanya ke Joe Russo, Benedict Cumberbatch, dan Karen Gillan.

Kreator dari Malaysia, Tintoy Chuo dari Fusion Wayang Kulit di Malaysia juga membuat wayang kulit bertemakan Pop Culture. Nah di Facebook, Tintoy Chuo mengklaim bahwa wayang kulit Pop Culture karya Is Yuniarto menjiplak wayang kulit karyanya. Statusnya bisa kamu baca di bawah ini;

Dear friends, recently there is a design related incident which was brought up to me again by many of my good friends &…

Posted by Tintoy Chuo on Sunday, 19 May 2019

Di sana dia membandingkan beberapa karya Fusion Wayang Kulit bertemakan Pop Culture dengan beberapa wayang kulit Pop Culture karya Is Yuniarto.

Sejatinya, ada perbedaan di antara kedua wayang kulit Pop Culture tersebut, yaitu milik Fusion Wayang Kulit menggunakan gaya wayang kulit Malaysia sedangkan karya Is Yuniarto menggunakan gaya wayang kulit Indonesia, lebih tepatnya Jawa.


CONTINUE READING BELOW

Ada 5 Hal Menarik yang Hampir Terjadi di Avengers: Endgame!

Tenryata ada 5 hal menarik yang hampir terjadi di Avengers: Endgame, kira-kira apa itu ya? Simak daftarnya di sini, ada juga karakter entitas kosmik!


Untuk kamu yang belum tahu, wayang kulit memang bukan hanya ada di Indonesia saja, melainkan ada juga di beberapa negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Malaysia yang kebetulan memiliki nama yang sama “wayang kulit”, karena itu ditambahkan nama Negaranya di bagian belakangnya.

Dari kedua karya tersebut, memang terlihat perbedaan gaya, namun memang ada kesamaan yang bisa dimaklumi karena keduanya berasal dari kesenian yang sama.

Kita bisa katakan keduanya adalah fanart dari sumber yang sama (Marvel, DC, Star Wars), namun di media wayang kulit negara masing-masing, karena keduanya tetap memiliki perbedaan.

Kami sudah menghubungi mas Is Yuniarto dan ingin meminta pendapatnya, namun kami masih menunggu jawaban dari beliau. Sementara itu, dilansir dari Detikcom, Is Yuniarto berkomentar tentang wayang kulit Pop Culture dari Malaysia; “Ya, saya sudah lihat. Sangat bagus kualitasnya,” (sumber: detikcom).

“Saya rasa misi kami sama, yakni mengenalkan budaya tradisional melalui tema pop culture. Mereka juga sudah bikin wayang pop culture sejak lama setahu saya,” kata Is Yuniarto dilansir dari Detikcom.

Memang kalau dilihat niat dan tujuan keduanya bagus, yaitu memperkenalkan budaya daerah masing-masing dan ingin menarik minat generasi yang lebih muda dengan memadukan budaya daerah dengan Pop Culture.

Terbukti memang banyak generasi yang tertarik dengan wayang kulit dengan karya-karya mereka di Negara masing-masing.

Bagaimana pendapatmu? Silahkan tulis di kolom komentar, ya.


Mau coba berbagai game dan VR buatan dalam negeri secara gratis? Raih banyak hadiah secara gratis, dan main sepuasnya? Yuk kunjungi BEKRAF Game Prime 2019, di Balai Kartini Jakarta, hari Sabtu dan Minggu, 13-14 Juli 2019. Acaranya gratis lho guys, jadi daftar sekarang ya di sini!
TENTANG PENULIS
Dimas Slebor

Panggilannya Dim, bukan Mas. Penggemar cerita-cerita Slice of Life, tapi juga suka robot-robotan. Suka review mainan di YouTube-nya. Lagi asik mengumpulkan mainan dengan uang pinjaman.